Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Malam Yang Mencekam | Cerpen Horror

Malam Yang Mencekam | Cerpen Horror

Malam Yang Mencekam

Dua minggu yang lalu, aku pindah ke Bekasi karena yayasan tempatku mengajar baru saja membuka sekolah baru di sana. Letaknya agak masuk ke dalam, dari arah Tambun, terus melewati pasar mini dan sekitar tiga puluh kilometer melewati perkampungan. Aku berangkat menaiki motor sendirian. Pikirku perjalanan ke sana tidak terlalu jauh. Aku baru berangkat jam tiga sore dari rumahku di Cibubur.

Setelah berkendara kurang lebih tiga jam mengikuti arahan dari Google Maps. Aku belum juga sampai di lokasi. Bahkan sudah empat jam, artinya sudah pukul tujuh malam. Aku belum juga sampai. Beberapa kali berhenti dan membuka Google Maps untuk memastikan kalau aku tidak kesasar. Dan tidak, aku masih mengikuti jalan sesuai dengan arahan Google Maps.

Google Maps memprediksi perjalanan ke lokasi sekitar tiga puluh menit lagi dengan kecepatan 50 km/jam. Kupikir sudah tidak terlalu jauh lagi. Jadi, aku meneruskan untuk berkendara. Jalan sudah berubah. Dari aspal ke jalan setapak yang dikelilingi bambu. Tidak ada penerangan sama sekali hanya penerangan lampu motorku. Tidak ada rumah sepanjang perjalanan bahkan aku sudah berkendara lebih dari tiga puluh menit dan bambu-bambu itu tidak pernah berakhir. Aku sudah lelah. Tapi, terlalu takut untuk berhenti di sana. Aku terus menancap gas, berharap di depan sana ada rumah. Paling tidak aku bisa duduk sebentar.

Tapi, sudah dua jam aku berkendara, bambu itu tidak berakhir dan waktu menunjukkan sudah jam sembilan malam lebih. Aku lapar, keringatan, haus dan terutama ketakutan. Aku mulai memperlambat motorku, mulai membaca ayat-ayat suci Al-Quran sambil mataku menyisir sekeliling, mengamati bambu-bambu dalam kegelapan. Tiba-tiba, sekedip mata, bayangan putih melambaikan tangan di pinggir jalan. Jantungku berdebar, kugas motorku. Apakah itu orang? Tidak mungkin ada orang yang tinggal di sini. Kalau itu bukan orang terus apa? Pikiranku berkecamuk. Setan? Apakah aku baru saja melihat setan? Ah tidak mungkin, setan itu tidak ada. Mereka berbeda alam.

Aku berkendara semakin cepat. Sudah empat jam sejak beristirahat. Motorku tiba-tiba mati. Di tengah-tengah jalan setapak bertanah hitam yang lembab dan dikelilingi Bambu. Jantungku berdebar seolah akan pecah. Aku turun dari motor, menghidupkan senter handphone. Tidak ada sinyal. Bagaimana pun posisiku berdiri, ketakutan menghampiriku. Pikirku sesuatu akan datang dari belakangku, aku berputar ke belakang dan menyenter ke sana. Sesuatu akan muncul dari samping aku menyenter ke sana. Aku benar-benar sudah tidak sanggup. Teramat takut sambil mulutku terus komat-kamit membaca ayat suci Al-Quran. “Mas, mau kemana?” Tiba-tiba suara muncul dari kegelapan. Aku terjatuh menimpa motorku. Buru-buru bangkit dan menyenter ke segala arah. “Tidak perlu takut! Mas hanya kesasar.” Suara itu entah muncul dari mana. Jantungku sudah sakit benar-benar tidak kuat. “Begini saja. Kau temani dia keluar! Kasihan!” Seseorang berbicara. Suara itu berbeda. Kemudian, aku benar-benar merasa tubuhku menjadi ringan, seolah ada tangan yang menyentuh pundakku. Aku berdiri dan menarik motorku berdiri. Handphoneku sudah terjatuh di tanah, aku tidak mengambilnya lagi, tidak memikirkanya. “Mas, handphone-nya!” Ucap seseorang, suara itu persis dari sebelah kananku tapi aku tidak melihat orangnya. Itu suara perempuan. Aku mengambil handphone-ku. “Ikuti kunang-kunang ini!” Mataku terbelalak, kunang-kunang itu muncul begitu saja di depan mataku.

Buru-buru, aku menggiring motorku berjalan mengikuti kunang-kunang itu hampir lima menit. Hingga aku sampai di pinggir jalan. Mataku menangkap tiang listrik dan lampu jalan di ujung sana. Astaga, aku belum pernah sebahagia itu bertemu dengan tiang listrik. Kupercepat langkahku menuju tiang listrik. Setelah sampai di jalan, kunang-kunang itu menghilang. Aku kembali menatap ke arah jalan setapak yang dikelilingi bambu itu, keningku berkerut, karena dari tempatku berdiri jalan setapak berujung pada jalan besar yang banyak lampunya. Kenapa tadi tidak ada? Buru-buru, aku langsung pulang ke Cibubur.

2 komentar untuk "Malam Yang Mencekam | Cerpen Horror"

Berlangganan via Email